Umur saya bertambah. Prasaan dulu waktu SD, saya paling hobi
pagede-gede umur sama temen. Sekarang? Kalo ditanya umur? Berasa tua padahal
masih belasan.
Sebetulnya umur belasan kan lagi cerdas-cerdasnya tuh bagi
cewek. Banyak prestasi yang diukir cewek pada usia sekolah. Misalnya juara
kelas. Tapi kenapa saya tidak memaksimalkan pertumbuhan yang dahsyat ini?
Kalau buka koran, ngiri banget sama adik-adik yang senyum
bangga di koran telah meraih penghargaan. Mulai dari duta cilik lingkungan
hidup sampai juara nasional robotika. Padahal mereka lebih muda dari saya. Dari
saya lahir hingga sebesar ini, saya bingung. Sebetulnya apa tujuan hidup saya?
Oke. Membahagiakan orang tua. Itu saja? Hm...masuk surga. Anak TK juga gitu.
Karena inilah saya merasa ada penurunan daya otak. Sewaktu saya SD dan SMP saya
merasa, saya sanggup untuk berada barisan terdepan karena saya bisa berpikir
cepat dan hasilnya brilian. Kalau sekarang? Untuk jawab pertanyaan saja
dibutuhkan keberanian yang banyak.
Mungkin gejala, maksud saya sifat kurang pede saya yang
membuat ide-ide imajinatifku tercegat di hati. Terlalu banyak mikir resiko.
Sialnya karena dandanan saya yang tidak menarik, orang-orang bahkan guru suka
memicingkan mata pada saya (kecuali guru yang baik) mendiskriminasi saya dengan
kesalahan yang wajar sebagai pelajar perbuat. Apa salahnya bertanya lebih
detail? Apa sebegitu parahkah saya berbuat kesalahan sehingga guru tersebut
memojokan saya habis-habisan? Mempermalukan saya dihadapan teman-teman yang
sebenarnya sependapat dengan saya? Itu yang membunuh Percaya Diri saya.
Guru adalah sosok yang hebat bagi saya. Mereka sangat pintar
dan baik. Tapi ada beberapa guru yang gila hormat. Tidak sopan sedikit, satu
jam terbuang karena dia marah-marah. Lalu membuat masalah dengan didatangkannya
wali kelas. Atau juga ada guru yang terlalu tak peduli dengan anak didiknya
yang kesulitan memahami materi yang ia ajarkan. Dianggapnya kami semua sudah
paham, sudah menguasai, besok siap test. Sangat menantang bukan? Semalaman
berusaha mati-matian belajar. Guru yang seperti itu membuat murid-murid malas
belajar. Termasuk saya.
Guru yang baik, membuat saya semangat belajar. Kalau dia
memberi nasihat, rasanya pencerahan itu benar-benar ada. Jalan berliku tapi
cerah diujungnya sangat terlihat. Tak heran kalau saya gampang terkesan oleh
sebuat ceramah. Namun saya tetap menyaring. Seperti kata guru saya, Indonesia
itu memiliki Local Genius.


2 komentar:
hm..hm..
Susah cari guru yang pas n kena di hati. Apa lagi yang pure mau ngajar n didik. Dulu mah banyak, sekarang susah. Bisa dibilang : orientasi materinya lebih dominan kalo sekarang. hehe. Maaf ah terus terang gini.
Tapi jangan sedih. Tetep kudu semangat belajar. Lewat media apa saja. Plus cari terus guru yang mumpuni. Pasti ada koq...
Poskan Komentar