Sebuah kisah yang telah lama kupikirkan dan ingin kutilaskan
tidaklah berjalan seperti cinderella yang akhirnya menikah dengan pangeran atau
Rome and Juliet yang akhirnya sama-sama mati konyol. Kisahku yang indah namun
cukup membuat aku tak berpikir jenih dalam beberapa waktu.
Demi seseorang yang aku cintai, mungkin aku bisa dibilang
cukup ahli dalam menunggu. Sabar menunggu berjam-jam kemudian dikecewakan. Sama
seperti menunggu 7 tahun tanpa hasil. Tapi itulah aku. Bagaimana aku
mengekspresikan kesabaranku dalam kemarahanku yang sesungguhnya ingin
diperhatikan.
Demi dia yang beharga, boleh dikata aku cukup gampang untuk
mengobrol dengan lawan jenis yang memiliki kegemaran sama. Atau minimal tertawa
ketika dia membuat lelucon. Karena itu, dengan parasku yang biasa saja, aku
bisa dianggap termasuk cewek yang laku (cie, PD). Ga jarang ada saja cowok yang
sangat ingin aku jadi pacarnya. Cowok yang ngejar, ga Cuma cowok biasa aja.
Dari mukan menengah keatas. Dari yang ganteng banget ampe yang biasa aja. TAPI
lagi-lagi karena DIA, aku tolak mereka dengan mengharapkan perhatian yang lebih
dari pacarku. Yang ada dia malah marah.
Keadaan rumahku yang sunyi dari dulu. Membuat aku tak banyak
bicara. Aku hanya mengoceh kepada teman-teman yang menurutku dapat dipercaya.
Mereka bilang aku suka ngobrol. Padahal? Buku lebih banyak jadi teman baikku.
Lagi-lagi kesendirianku terbawa oleh kenyataan hidupku diluar perjagaan rumah.
Penyakit kurang darah menyebabkan mataku cekung dan kulitku kusam. Bisa
dibilang aku tak pernah semangat kalau dilihat dari roman mukaku yang selalu
lesu. Ditambah dengan pakaian yang lusuh menyebabkan aku lebih sering dihindari
orang.
Tapi saat dia ada, aku merasa menjadi segalanya yang
terbaik. Membuatku jadi cantik, membuat rambut kusutku jadi tergerai indah,
kulit kusamku menjadi putih merona dan baju lusuhku menjadi sebuah gaun yang
indah. Dapat kurasakan perasaan bahagia itu tiap kali bersamanya di bangku
taman sore hari setelah makan siang dan kedinginan akibat cuaca mendung. Meski dia
tak begitu memperhatikan aku, detik itu aku memilikinya.
Ketika aku melihatnya
tersenyum dan ketika dia membuatku tersenyum
Masih jelas terlihat lekukan wajahnya saat tertawa. Seakan
tawa itu membawaku menuju suatu tempat meninggalkan badanku dan pikiranku
kosong. Tiap kali aku mengingat itu, setelahnya aku dihinggapi perasaan aneh.
Stres dan terlalu percaya dia akan ada bersamaku terus.
Aku mencari informasi ini, ternyata benar, aku bisa gila
kalau terlalu memikirkannya bila dia tak ada lagi. Kalaau dia sengaja
menyuruhku tinggal untuk sesuatu yang hebat. Aku terlalu takut untuk menerima
kalau ternyata aku tidak bisa bangun dan berakhir dikamar yang terisolasi dari
dunia luar. Padahal aku yakin kalau diriku memiliki akal sehat.
Bagaikan mimpi buruk yang tak pernah bisa hilang, aku
menghela nafas untuk kesekian kalinya. Berharap suatu keajaiban akan menuntunku
pada apa yang sebenarnya itu memang yang terbaik untuku dan tidak akan aku
sesali


0 komentar:
Poskan Komentar